Tampilkan postingan dengan label My Lovers is a Vampire. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label My Lovers is a Vampire. Tampilkan semua postingan

Jumat, 22 Maret 2013

My Lovers is a Vampire 6


Sesampainya dirumah aku langsung merebahkan tubuhku di ranjang. Aku menumpahkan semua air mataku di atas bantal. Namun tiba-tiba.....
            “Kinaya.” Suara itu. Aku pun terbangun.
            “Michizuki. Kenapa kamu disini? Ini kamarku, jadi kamu gak bisa keluar masuk seenaknya seperti ini. Keluar, keluar dari kamarku, keluar!” aku mendorong tubuhnya. “Aku gak mau ngeliat kamu lagi.”
            “Kinaya,maaf. Maaf, aku tadi terbawa emosi. Maafin aku. Kalo kalian gak berciuman seperti itu, aku juga gak akan semarah ini. Aku cemburu, aku gak bisa nahan emosiku.” Belanya.
            “Aku gak mau denger lagi, aku mau kamu sekarang pergi. Pergi!” aku berusaha mendorognya, namun dia malah meraih dan menarik tanganku hingga aku jatuh dalam pelukannya.
            “Maafkan aku, Kinaya. Aku bener-bener gak bisa nahan emosi. Aku janji, aku janji gak akan ngelakuin hal kayak gitu lagi. Aku gak akan membahayakan jiwa orang lain lagi, tapi kamu juga harus janji gak akan deketin cowok mana pun.”
Tapi aku langsung melepaskan pelukannya.
            “Gak. Aku gak mau, aku gak mau lagi ngejalanin hubungan sama kamu. Aku udah gak mau lagi berhubungan sama seseorang yang bisa membunuh orang lain dengan seenaknya sendiri. Jadi mending sekarang kamu pergi jauh dari kehidupanku, jangan pernah muncul lagi dihadapanku.”
            “Kinaya. Aku.......”
            “Cukup. Hentikan.” Ku berteriak.
Aku pun langsung merebahkan tubuhku diranjang, dan menutup kepalaku dengan bantal. Untuk beberapa saat kubenamkan wajahku dibantal. Saat aku sudah puas menangis, ku buka perlahan bantal yang menutupi wajahku. Kucoba melihat sekeliling, ternyata dia bener-bener sudah gak ada lagi. Ada sedikit perasaan lega dihatiku.
Aku pun beranjak mandi dan hendak makan malam bersama ibu. Namun saat menuruni tangga, aku mendengar sepertinya ibu lagi ngobrol sama seseorang. “Sepertinya ada tamu.” Pikirku. Aku pun perlahan menuruni tangga itu, dan sesampainya diruang tamu kulihat seorang wanita paruh baya sedang asyik mengobrol dengannya. “Seperti seorang teman yang sangat akrab. Siapa ya wanita itu?” aku penasaran. Perlahan aku mendekat.
            “Kinaya.” Ibu menyapaku. Dan wanita itu pun ikut melihatku. Aku pun langsung terkejut saat melihat wanita itu.
            “Loh, bukannya Anda Ibunya Ryota.” Ucapku kaget.
            “Iya Kinaya.” Senyumnya.
            “Loh, kenapa kamu bisa tahu Ibunya Ryota?” tanya Ibu heran.
            “Beberapa hari yang lalu aku sempat kerumahnya Ryota, dan bertemu sama  Ibunya Ryota.” Jelasku.
            “Oo, Ibu kira kamu mengingatnya.” Ibu sedikit kecewa.
            “Memangnya ada apa, Bu?” tanyaku penasaran. “Ibu sudah lama mengenalnya ya? Kenapa Kinaya gak tahu? Biasanya kalo Ibu punya teman dekat, Kinaya selalu kenal. Tapi kenapa Ibu gak pernah ngenalin Ibunya Ryota ke Kinaya?”
Mereka pun saling bertatapan, seakan-akan bingung mau menjawabnya.
            “Bu, kenapa Ibu malah diam? Apa Kinaya salah bertanya ya?”
Sejenak mereka saling terdiam, namun...
            “Kinaya, sebelumnya Tante minta maaf ya.”
            “Minta maaf. Minta maaf untuk apa?”
Namun mereka hanya menunduk, seakan sedang menyiapkan jawaban untukkku
            “Kinaya, apa kamu bener-bener gak ingat sama Ibunya Ryota.”
Aku hanya menggeleng.
            “Apa kamu juga gak ingat sama Ryota? Maksud Ibu, apa kamu pernah mengenal Ryota sebelumnya?”
            “Gak Bu, aku masih baru mengenal Ryota saat dia masuk ke sekolahku. Sebelumnya aku gak pernah kenal dia. Memang ada apa, Bu?”
Tapi mereka masih tetap saja terdiam.
            “Bu, tolong kasih tahu Kinaya sebenrany ada apa? Kenapa Ibu Cuma diem aja?” Tanyaku penasaran. “Bu, ngomong dong. Jangan bikin Kinaya tambah bingung gini.”
Untuk beberapa saat mereka menatapku dengan rasa kasihan.
            “Baiklah, Kinaya. Ibu akan cerita semua sama kamu, apapun yang perlu kamu tahu. Karena menurut Ibu mungkin inilah saatnya Ibu ungkapin semua, kamu juga perlu tahu yang sebenarnya. Ibu juga gak mau menutupinya terlalu lama.”
Aku pun semakin penasaran.
            “Memangnya ada apa sih, Bu? Kok sepertinya serius banget.”
            “Kinaya. Apa kamu ingat dulu saat masih berumur 7 tahun kamu pernah masuk ke Rumah Sakit?”
            “Iya, Bu. Kinaya inget. Waktu itu Ibu bilang Kinaya terjatuh dari tangga sekolah kan? Makanya lukanya juga cukup parah dan bikin Kinaya harus dirawat intensiif.”
            “Iya, Nak. Ibu memang bilang seperti itu. Tapi, maaf.” Ucapnya sedih.
            “Maaf. Maaf untuk apa, Bu?” tanyaku makin penasaran.
            “I..Ibu bohong sama kamu, Nak.” Ibu gugup.
            “Bohong. Bohong apa, Bu? Bohong masalah apa?”
            “Sebenernya saat itu kamu bukan jatuh dari tangga, tapi kamu kecelakaan.”
            “Kecelakaan? Apa maksud Ibu?”
            “Iya, Nak. Saat itu kamu kecelakaan. Ada sebuah bis yang menabrak kamu, hanya benturan di kepala yang membuat kamu melupakan semua ingatanmu di masa lampau.”
            “Maksud Ibu aku hilang ingatan?”
Ibu hanya mengangguk. Aku pun merasa bingung dan heran, sebuah kenyataan yang baru aku tahu.
            “Kalo memang aku ditabrak bis kenapa aku masih bisa hidup sampek sekarang Bu? Kenapa bisa?”
            “Entahlah, Nak. Ibu juga heran kenapa semua keajaiban itu bisa terjadi. Padahal saat dibawa kerumah sakit benturan dikepalamu cukup parah, bahkan dokter pun mendiagnosa kalo kamu gak akan bisa bertahan lama dengan kondisi benturan kepalamu yang begitu hebat.”
            “Terus, apa hubungannya dengan Ryota Bu?”
            “Dulu saat kalian berumur 5 tahun keluarga Ryota pernah tinggal disini, dia pernah jadi tetangganya kita. Sejak itu, kalian selalu berteman baik. Ryota adalah teman masa kecilmu. Bahkan yang kami lihat, kalian seperti sepasang anak yang gak bisa dipisahkan. Kemana-mana selalu bareng.” Jelas Ibu.
            “Dulu saat belum tinggal disini, Ryota adalah seorang anak yang pendiam dan gak terlalu suka bergaul dengan teman sebayanya. Dia pun juga jarang berbicara dengan kita. Dia hanya bisa mengurung dirinya dikamar. Namun sejak bertemu dengan kamu, dia jadi berubah. Ryota jadi anak yang ceria dan selalu menceritakan apapun yang kalian lakukan selama seharian.  Dia jadi anak yang aktif dan sering berbicara.” Jelas Ibunya Ryota. “Dulu saat kalian masih kecil, kalian paling suka bermain di sungai yang jaraknya tidak terlalu jauh dari sini.”
Sungai? Apa maksudnya sungai yang beberapa kali aku kunjungi bersama Ryota?
            “Tiap hari kalian selalu menghabiskan waktu bersama, sampai suatu hari Ryota pernah mengatakan sesuatu hal yang awalnya kami anggap itu Cuma sebagai candaan seorang anak kecil.” Tambah Ibu Ryota.
            “Kata-kata apa?”
            “Dia pernah bilang kalo dia ingin menikah denganmu. Bahkan dia juga pernah membawamu ke altar dan memberi kamu rangkaian bunga yang dibentuk seperti cincin. Coba bayangin aja, anak sekecil itu bisa mengatakan tentang pernikahan. Pasti semua orang tua akan menganggap itu Cuma candaan, tapi lama kelamaan kami merasa sesuatu yang dia katakan itu bukan Cuma bercanda. Bahkan dia pernah buktiin sendiri rasa sayangnya padamu.”
            “Buktiin?”
            “Iya. Dulu saat sedang ujian, aku sempat melarang dia terlalu sering bermain denganmu. Aku menyuruh dia terus didalam kamar dan belajar. Tapi dia malah males makan dan dia malah gak mau belajar, bahkan dia pernah jatuh sakit karena gak bisa ketemu kamu.” Jelasnya. “Aku pernah tanya padanya, apa yang sebenarnya dia inginkan. Dan dia jawab kalo dia Cuma pengen ketemu kamu tiap hari. Meski gak boleh keluar rumah dan bermain, asalkan kamu tinggal bersama kami dia gak akan males belajar. Akhirnya tante pun ngikutin apa yang dia mau. Karena kita dulu bertetangga jadi gak sulit mindahin kamu kerumah kami. Dan hasilnya saat kamu tinggal dirumah ini, keesokan harinya Ryota udah sembuh dari sakitnya dan gak males belajar lagi. Bahkan dia dapat nilai tertinggi disekolahnya.” Jelas Ibunya Ryota.
            “Benarkah sampai seperti itu, Tante?” tanyaku heran.
            “Benar, Nak. Dulu kalian bener-bener sangat dekat. Bahkan saat kalian tinggal bersam, Ryota mau berbagi kamarnya denganmu. Bisa dibilang kalian bukan hanya teman deket, tapi lebih dari itu. Bahkan semua tetangga bilang kalo kalian itu sepasang suami istri kecil.” Senyum Ibu. “Kalian adalah pasangan yang bener-bener gak bisa terpisahkan. Tapi....” senyum itu tiba-tiba aja berubah jadi kesedihan.
            “Tapi apa, Bu?”
            “Tapi seketika kenangan-kenangan indah selama 2 tahun itu tiba-tiba aja musnah saat kalian berpisah.”
            “Berpisah. Kenapa aku dan Ryota berpisah, Bu?”
            “Suatu hari ada kabar kalo Ayah Ryota akan pindah tugas keluar negeri, jadi otomatis Ryota juga akan dibawa. Mendengar kabar itu, kalian pun sama-sama menangis. Saat aku membawamu kembali kerumah, Ryota menggandeng erat tanganmu. Bahkan saat sudah terpisah rumah, kalian sama-sama gak mau makan selama beberapa hari. Itu membuat tubuh kalian sangat lemah. Kalian ingin tetap tinggal bersama, kalian gak mau dipisahin. Tapi kami gak bisa apa-apa, Ryota harus tetap ikut bersama keluarganya pindah keluar negeri. Dan akhirnya sampailah saat hari dimana Ryota harus pergi. Kamu pun berusaha menyelinap keluar rumah untuk mengejar Ryota ke bandara. Tapi sayang, saat berlari ditengah jalan dengan tubuhmu yang saat itu sangat lemah, kamu pun gak bisa menghindari kecelakaan itu. Kecelakaan yang membuatmu kehilangan semua ingatanmu dan membuatmu koma beberapa hari.” Jelas Ibu.
            “Jadi selama ini Kinaya bukan jatuh dari tangga, Kinaya kecelakaan? Dan Ryota, dia cinta masa kecilku, Bu?” tanyaku sedih. Ibu hanya mengangguk. “Terus, terus kenapa saat aku sadar dari kecelakaan itu Ibu gak langsung cerita? Kenapa baru cerita sekarang, Bu?” air mataku sudah gak bisa terbendung lagi.
            “Maaf, Nak. Ibu gak berani menceritakannya padamu. Karena dokter bilang benturan dikepalamu sangat parah, jadi kalo Ibu mengungkit masa lalumu dokter itu pun khawatir kamu akan jadi depresi dan bisa berakibat fatal buat dirimu sendiri. Makanya itu selama ini Ibu berusaha menutupi semuanya darimu, Nak. Kamu bisa sadar dari koma aja Ibu sudah bersyukur, Ibu gak mau malah membenari pikiranmu.”
Sejenak aku hanya terdiam melepas semua kesedihanku.
            “Tante, Ryota sekarang ada dimana?” tanyaku.
Sebelum dijawab, aku pun langsung meninggalkan mereka dan berlari keluar rumah.
            “Kinaya, kamu mau kemana?” ibuku berteriak.
Tapi aku gak menghiraukannya, aku berlari makin kencang untuk mencari Ryota. Saat berlari, aku pun berusaha mengingat semua kenangan masa laluku bersamanya. Tiba-tiba aja kepalaku jadi pusing, sejenak aku menghentikan lariku. Aku berusaha mengingatnya di masa lalu, meski pun ingatan itu masih samar tapi aku sedikit bisa mengingat tentangnya. Mengingat saat-saat kita bersama. Sekarang aku tahu dia ada dimana. Aku harus mencarinya, aku harus menemuinya. Aku pun melanjuntkan berlari, meksi pun kepalaku terasa sangat sakit tapi aku terus saja berlari.
Dan tibalah aku disebuah sungai yang biasa kami kunjungi, aku berusaha mencarinya disekeliling sungai itu. Tapi Ryota gak ada. Saat aku berbalik dan hendak mencarinya lagi. Kulihat ada seseorang yamg bersandar disebuah pohon di tepian sungai itu. Aku berusaha memastikannya, perlahan aku mendekati orang itu. Ryota. Ternyata bener itu Ryota. Aku pun berlari menghampirinya. Dia pun juga terkejut dengan kedatanganku.
            “Kinaya. Kenapa kamu.....”
Pleshhhhh.. tiba-tiba aku menamparnya dengan keras.
            “Kenapa? Kenapa kamu gak mau bilang semuanya ke aku? Kenapa kamu juga sama, menutupi semua masa lalu kita? Kenapa kamu sepertinya menganggap aku ini seperti orang bodoh yang gak tahu apa-apa? Kenapa!! Kenapa!!!” aku berteriak. Air mataku turun begitu deras. Aku pun berbalik dan hendak pergi, namun tiba-tiba dia memelukku dari belakang.
            “Lepaskan, lepaskan aku.” Aku berusaha berontak.
            “Gak Kinaya, aku gak akan melepasmu. Aku gak akan melepasmu untuk kedua kalinya. Udah cukup selama ini aku kehilangan kamu, udah cukup aku ngelihat kamu bermesraan dengan cowok lain. Udah cukup semuanya. Aku udah gak bisa menahan perasaanku lagi.” Pelukannya semakin erat. Dia pun berusaha membalikkan posisi kepalaku ke arah samping hingga aku bisa melihat dirinya. Perlahan dia mencium bibirku yang basah terkena air mata. Ciuman lembut itu seakan mengisyaratkan kalo saat ini dia bener-bener sangat merindukanku.

Senin, 18 Maret 2013

My Lovers is a Vampire 5


Kami pun terus berjalan-jalan, sesekali dia menngodaku dan kami tertawa bersama. Seperti sepasang kekasih yang tak bisa terpisahkan. Selama bersama Michizuki aku gak pernah merasakan ini sebelumnya, aku bener-bener merasa sangat nyaman saat bersama dengan Ryota.
Tak lama kami berjalan, kami tiba di depan sebuah sungai. Iya, sungai yang beberapa hari lalu kami lewati. Dia pun sejenak melihat sungai itu dan mendekat ke tepian sungai itu. Dia melihat sungai itu dengan sangat dalam, seakan dia lagi jatuh cinta sama sungai itu.
            “Ryota.”
            “Iya, kenapa Kinaya?” jawabnya kaget.
            “Kamu suka banget ama sungai ini ya? Karena sejak pertama kali aku ngeliat, kamu selalu memandangi sungai ini dengan sedih.”
            “Ng..nggak kok. Aku gak sedih, Kinaya. Aku....”
            “Bohong. Kamu pasti bohong. Aku ngeliat sendiri kamu selalu sedih kalo mandangin sungai ini. Pasti ada suatu kenangan dengan sungai ini.” Tapi dia hanya terdiam. “Kalo kamu mau cerita, kamu cerita aja. Aku siap kok jadi pendengarmu yang baik.”
            “Aku gak apa-apa kok, Kinaya. Oh iya, udah sore nih. Kita pulang aja ya.” Dia hendak pergi, namun aku mencegahnya.
            “Ryota. Tolong, jangan menghindar lagi. Aku kan temanmu, makanya kamu harus cerita ama aku. Jadi kesedihanmu itu bisa kita bagi berdua.”
            “Nggak, Kinaya. Aku gak pengen bikin kamu ikut-ikutan sedih. Aku pengen kamu selalu bahagia, aku gak pengen bikin temen baikku yang cantik dan pinter ini sedih.” candanya.
Aku pun hanya membalas dengan senyuman, kami pun berjalan pulang. Tapi aku yakin, dibalik senyuman dan candanya itu tersimpan sebuah kenangan tentang sungai itu. Selama perjalanan, aku liat wajah Ryota sangat hampa. Tak ada lagi canda tawa seperti yang tadi kami lakukan. Dia hanya terdiam.
Sesampainya didepan rumah.
            “Terima kasih ya, Ryota. Udah nganterin aku pulang.”
            “Iya, sama-sama. Cepet sana kamu masuk, ini udah malem. Kamu langsung istirahat aja.” Aku hanya mengangguk. “Selamat malem Kinaya, semoga mimpi indah.” Dia langsung beranjak pergi.
Aku pun masuk kerumah.
            “Aku pulang.” Sapaku.
            “Oh kamu baru pulang.” Jawab Ibuku. “Kamu udah makan belum? Ini Ibu udah siapin makanan.”
            “Gak Bu, Kinaya lagi gak enak makan. Aku mau langsung istirahat aja ya Bu.”
            “Ya udah kalo gitu mandi terus istirahat ya.”
            “Iya Bu.”
Saat aku hendak menaiki tangga....
            “Oh iya Kinaya, tadi ada Michizuki kesini. Dia nyariin kamu.”
            “Michizuki?” aku terkejut. “Memang kenapa dia nyariin aku, Bu?”
            “Ibu juga gak tahu. Dia sepertinya pengen banget ketemu sama kamu. Coba deh kamu telpon dia, mungkin ada sesuatu yang mau dia bicarakan sama kamu.”
            “Ya udah kalo gitu Kinaya mau naik ke kamar dulu ya, Bu.”
Ibu hanya tersenyum. Aku pun langsung masuk kamar dan membaringkan tubuhku disana. Sebenernya kenangan apa ya yang ada di sungai itu? Kenapa dia selalu sedih? Apa kenangan itu menyakitkan? Apa ini tentang pacarnya? Aku terus aja memikirkan dia. Dan tiba-tiba angin berhembus sangat kencang, membuat tirai jendelaku terbuka. Aku sampai terkejut. Aku pun mendekati jendela dan hendak menutup tirainya. Tapi saat akan menutup tirai itu, tiba-tiba aja Michizuki muncul dihadapanku, hingga membuatku terkejut dan hampir jatuh ke belakang. Tapi Michizuki dengan sigap menangkap tubuhku.
            “Kenapa sampek terkejut kayak gitu?”
            “Ng..nggak apa-apa kok.” Aku pun berusaha bangun dari pelukannya.
            “Apa wajahku ini sangat menyeramkan bagimu, sampai-sampai bikin kamu terkejut kayak gini. Apa sekarang kamu udah mulai takut denganku?”
            “Sapa lagi yang takut? Aku gak takut kok, aku Cuma kaget aja. Gimana gak kaget, tiba-tiba kamu muncul dari jendelaku.” Aku pun mendekat ke balkon jendela luar.
            “Aku kan vampire, jadi bisa muncul dimana aja yang aku mau.” Dia pun langsung memelukku dari belakang, pelukan yang sangat hangat. Meski udara di balkon jendela itu sangat dingin, tapi dengan pelukannay aku ngerasa sangat hangat. “Kinaya, jangan pernah takut sama aku ya.”
            “Siapa yang takut? Aku gak takut, aku Cuma........”
            “Meski aku ini seorang vampire yang mungkin bisa aja minum darahmu sampai habis, tapi kamu harus percaya. Kalo aku gak akan pernah ngelakuin hal itu sama kamu.”
            “Iya, aku percaya itu.”
Dia pun memelukku semakin erat dan mencium leherku. Tangannya mulai meraba tiap bagian tubuhku, namun aku segera menghentikannya.
            “Jangan, Michizuki.” Aku melepas pelukannya. Aku berbalik dan berhadapan dengannya.
            “Kenapa? Apa kamu udah gak mau lagi?”
            “Bukannya gitu Aku sekarang capek banget, aku cuma pengen istirahat.”
            “Oh iya, aku baru inget. Seharian ini kamu menghabiskan waktu dengannya kan? Sampai-sampai seharian ini kamu gak menghubungi sama sekali.” Sindirnya.
            “Maaf,Michizuki. Aku.....”
            “Iya, aku ngerti kok. Kalo sama dia, kamu bisa jalan-jalan di siang hari kemana pun kamu mau pergi. Tapi kalo sama aku, kamu gak akan bisa seperti itu. Hanya malem aja aku baru bisa keluar.”
            “Bukannya gitu, aku dan Ryota.....”
            “Aku gak mau denger nama dia lagi. Aku minta sama kamu, mulai sekarang jauhin dia. Jangan pernah deket ama dia lagi, meski kalian 1 kelas.”
            “Mana mungkin aku ngejauhin dia, dia itu kan temanku. Aku gak bisa ngejauhin dia.”
            “Kenapa gak bisa? Apa karena kamu udah mulai suka sama dia?” bentaknya.
            “Michizuki, kenapa kamu ngomongnya seperti itu?”
            “Aku tahu isi pikiranmu, aku bisa baca pikiranmu.” Dia sejenak menahan emosinya. “Inget, Kinaya. Kamu itu milikku, Cuma milikku. Jadi gak ada satu pun orang yang boleh mendekati kamu selain aku.”
            “Jangan egois kayak gitu, dia itu temanku. Maaf, aku gak bisa nurutin kemauanmu.” Dia pun sejenak terkejut mendengar jawabanku.
            “Kinaya, kenapa kamu keras kepala seperti ini. Kalo kamu memang sayang sama aku, seharusnya kamu nurutin apa yang aku bilang.”
            “Sayang bukan berarti aku harus nurutin semua apa yang kamu mau. Aku juga punya kehidupan sendiri bersama teman-temanku. Lagian itu kan Cuma teman, jadi apa salah kalo aku punya temen.”
            “Aku gak melarangmu untuk berteman. Tapi jangan sama cowok, apa lagi Ryota. Aku gak suka kamu terlalu dekat dengannya. Kalo kamu masih dekat sama dia, aku bener-bener akan melenyapkannya.”
            “Apa maksudmu?”
            “Kamu pasti udah tahu apa yang akan aku lakukan dengan dia kan?”
            “Michizuki, jangan.....” belum selesai aku bicara dia pun langsung loncat dari balkon jendela kamarku dan langsung berlari pergi. “Michizuki, tunggu. Aku belum selesai bicara.” Dia pun langsung menghilang dari pandanganku.
Michizuki. Kenapa dia seprti itu? Kenapa dia seakan sangat mengkhawatikan aku dengan Ryota, seharusnya kan gak usah sampek ngancem kayak gitu. Baru kali ini aku ngeliat ekspresi cemburu yang sangat besar kayak gitu. Mudah-mudahan aja dia gak ngelakuin hal yg macem-macem. Aku pun langsung menutup jendela dan beristirahat.

            Keesokan harinya, seperti biasa aku berangkat ke sekolah. Sesampainya disekolah aku menyempatkan diri melihat ke kelas Michizuki, namun dia gak ada. Aku pun langsung pergi ke kelasku sendiri yg tepat berada disampingnya kelasnya. Aku juga ngeliat ke bangku Ryota, namun dia juga gak ada. Kenapa Ryota belum datang ya? Biasanya kan dia selalu datang paling pagi. Sejenak aku pergi tentang perkataan Michizuki yang semalam. Aku bener-bener khawatir. Sampai bel tanda masuk berbunyi pun dia belum juga datang. Aku semakin mengkhawatirkannya.
            Sepulang sekolah, aku pun langsung pergi kerumah Ryota. Aku pun melihat-lihat alamat rumahnya sampai aku berhenti di sebuah rumah.
            “Sepertinya ini bener rumahnya. Coba aja deh aku masuk.”
Tokk...tokkk...tokk.. aku mengetuk pintu rumah itu.
            “Iya, sebentar.” Terdengar suara seorang wanita dari dalam rumah itu.
Tak lama kemudian seorang wanita paruh baya membuka pintu rumah itu. Sejenak wanita itu memandangiku.
            “Cari siapa ya?” tanyanya ramah.
            “Maaf sebelumnya. Apa bener ini rumah Ryota?”
            “Iya, bener. Kamu siapa ya?”
            “Saya teman sekelasnya,perkenalkan nama saya Kinaya.”
            “Oh kamu Kinaya ya. Kalo gitu mari silahkan masuk.”
Aku pun masuk dan duduk disebuah sofa.
            “Ryota sering banget loh cerita tentang kamu, kamu emang bener-bener cewek yang cantik seperti apa yang dia katakan. Ternyata kamu sekarang udah tumbuh jadi cewek yang cantik.”
            “Tumbuh jadi cewek yang cantik. Maaf sebelumnya, apa Tante pernah mengenalku.”
            “Ya pastilah Tante kenal kamu, kamu dulu........”
            “Ibu.” Tiba-tiba Ryota datang dan memotong pembicaraan Ibu nya.
            “Oh Ryota, kamu terbangun ya.” Sapa Ibu nya.
            “Jelas aku terbangun, karena aku ngerasa ada seseorang yang sedang membicarakanku.” Candanya. “Ibu. Aku dan Kinaya ngobrol dikamar aja ya?”
            “Ya udah kalo gitu, kalian ngobrolnya nyantai aja. Meski pun kamu mau nginap disini juga gak apa-apa kok.” Senyum Ibu Ryota.
Aku pun langsung pergi kekamar Ryota.
            “Maaf ya. Ibu ku memang selalu gitu, kalo ada cewek yang datang kerumahku dia pasti banyak bicara. Ibu ku pasti udah ngerepotin kamu ya.”
            “Gak kok. Ibu mu baik sama aku.”
            “Syukurlah kalo dia gak ngerepotin kamu.” Senyumnya.
            “Oh iya, tadi aku sempat aneh ama salah satu perkataan Ibu mu. Dia bilang ternyata aku udah tumbuh jadi cewek yang cantik. Emangnya dulu Ibu mu pernha mengenalku?”
Ryota sejenak terkejut mendengar pertanyaanku. Dia seakan bingung mau menjawab apa.
            “I..it...itu... Emmm,,,mungkin aja dia salah mengenali orang. Iya, dia mungkin salah mengenali orang. Lagian mana mungkin Ibu ku bisa mengenalmu, kami kan baru aja pindah kesini beberapa minggu yang lalu.”
            “Iya sih, tapi tetep aja aku ngerasa aneh ama perkataan tadi. Dari cara bicaranya denganku, sepertinya dia pernah mengenalku sebelumnya.”
            “Ng...Nggak kok. Gak mungkin Ibu ku bisa mengenalmu.” Ucapnya gugup. “Oh iya, ada apa kamu datang kesini?” tanyanya mengalihkan pembicaraan.
            “Oh itu, aku Cuma khawatir aja ama kamu. Seharian ini kamu kan gak datang ke sekolah. Padahal kamu kan tipe murid rajin yang gak pernah bolos.”
            “Aku Cuma gak enak badan aja, tapi dengan istirahat pasti besok udah sembuh lagi kok.”
            “Maaf ya, gara-gara aku datang kamu jadi gak bisa istirahat.”
            “Gak apa-apa kok. Aku malah seneng bisa dijenguk ama kamu.” Senyumnya.
Tak lama mengobrol aku pun pamit pulang. Sesampainya dirumah, aku langsung mandi dan merebahkan tubuhku di ranjang. Namun tiba-tiba......
            “Kenapa kamu gak nurutin apa yang aku katakan?” suara itu mengagetkanku dan membuatku terbangun.
            “Mi....Michizuki.” aku gugup.
            “Kenapa kamu kaget? Apa suaraku juga mulai membuatmu takut?” dia pun mendekat dan duduk disampingku.
            “Bu..bukan gitu. Aku......”
            “Apa sekarang kamu ngerasa aku menakutkan? Apa sekarang kamu udah bener-bener takut denganku?” dia semakin mendekat ke wajahku. Dia belai lembut pipiku. “Kenapa, Kinaya? Kenapa kamu sekarang beda? Apa rasa sayangmu yang dulu kamu bilang begitu besar itu sekarang udah gak ada lagi. Atau mungkin rasa itu udah pindah ke Ryota.” Kata-katanya begitu lirih, seakan dia ingin menunjukkan kalo dia lagi sakit hati.
            “Michizuki. Rasa sayangku ke kamu masih sama kayak dulu, gak ada yang berubah.”
            “Benarkah itu? Benarkah perasaanmu masih tetep sama seperti dulu.”
Aku hanya mengangguk. Dia pun semakin mendekatkan bibirnya padaku, hendak menciumku. Namun aku menghindar, aku memalingkan wajahku ke sisi yang berlawanan.
            “Kenapa, Kinaya? Kamu tadi bilang perasaanmu masih sama seperti dulu, tapi kenapa hanya cium aja kamu udah nolak.”
            “Maaf Michizuki, aku hanya pengen istirahat. Lagian ini udah malem, besok kan kita juga masih harus sekolah. Jadi aku pengen istirahat lebih awal.”
            “Ya udah kalo gitu, sekarang kamu istirahat. Aku akan tetep disini, jagain kamu tidur.”
Aku pun membalasnya dengan senyuman. Dalam pelukan hangatnya aku tertidur pulas.

Keesokan harinya saat aku terbangun, Michizuki sudah gak ada. Aku pun bergegas mandi dan berangkat ke sekolah. Saat didepan rumah, kulihat ada Michizuki yang menungguku.
            “Michizuki.”
            “Kinaya.” Senyumnya. “Ayo kita berangkat.”
            “Ayo.” Balasku.
Michizuki pun menggandeng erat tanganku. Tangan yang besar dan kuat, siapa yang bisa sangka cowok cakep yang bersamaku sekarang ini adalah seorang vampire.
Sesampainya di sekolah, kami pun berpisah karena ruang kelas kita berbeda.
            “Kinaya.”
            “Oh, Ryota. Gimana keadaanmu? Udah baikan?”
            “Udah baikan kok, karena kemarin kamu udah jenguk aku jadi aku pasti akan cepat sembuh.” Guraunya.
            “Kamu ini bisa aja. Oh iya ntar ada pelajaran olahraga loh, apa kamu kuat ngikutin pelajaran olahraga? Kalo kamu gak kuat, nanti aku ijinin deh ama pak Guru.”
            “Gak usah, Kinaya. Aku baik-baik aja. Aku udah kuat ngikutin pelajaran olahraga. Jadi kamu gak usah khawatir.”
Entah kenapa aku khawatir banget ama dia. Aku pun hanya tersenyum. Saat pelajaran olahraga, kami pun pergi ke indoor (lapangan tertutup) di dalam gedung sekolah.
            “Anak-anak, sekarang kita pelajaran olahraga basket ya. Jadi tiap orang punya kelompoknya masing-masing kan. Nah sekarang kalian boleh bermain bersama teman kelompok masing-masing.”
Aku pun berkumpul dengan teman kelompokku. Saat aku mencoba memasukkan bola kedalam ring, saat aku meloncat tiba-tiba aja aku terpeleset. Namun dengan sigap seseorang berada dibelakangku. Dan akhirnya aku jatuh menindihi tubuhnya. Semua temen-temen menghampiri kami.
            “Ryota.” Aku segera terbangun dan melihat kondisinya. “Kamu gak apa-apa? Apa ada yang terluka?”
            “Aku gak apa-apa kok, aku baik-baik aja” senyumnya.
Aku berusaha memeriksa kondisi tubuhya yang  masih tergeletak di lantai.
            “Ryota. Siku mu?” aku terkejut. Aku lihat disiku kanannya ada lecet yang lumayan parah. Sepertinya tangannya terbentu keras di lantai lapangan.
            “Oh ini.” Dia melihat sikunya.”Kalo ini sih bukan masalah besar, Cuma lecet aja. Gak begitu parah kok. Jadi tenang aja.”
Meskipun dia berkata seperti itu, tapi tetep aja aku ngerasa sangat bersalah sama dia.
            “Ryota. Aku bantu kamu ke klinik sekolah ya?”
            “Gak usah. Ini luka biasa kok, dicuci pake air udah selesai.”
            “Gak boleh. luka itu harus tetap dirawat biar gak infeksi. Pokoknya kamu sekarang aku antar ke klinik sekolah. Titik.”
Mendengar ucapanku itu, dia pun gak membantah lagi. Dia mengikutiku jalan ke klinik sekolah. Sesampainya disana, aku mengambil kotak P3K dan mulai merawat lukanya. Aku bener-bener kasian banget sama dia.
            “Maaf, Ryota.” Ucapku sambil mengusap betadine ke luka itu. “Gara-gara aku, kamu jadi terluka kayak gini. Maaf.”
Aku hanya bisa menunduk dan tak kuasa meneteskan air mata. Dia pun langsung memegang daguku, dan mengangkat wajahku. Dengan tersenyum dia mengusap air mataku.
            “Jangan pernah nangis lagi dihadapanku ya, karena aku gak mau ngeliat kamu sedih. Aku gak mau ada air mata di wajahmu.” Senyumnya.
            “Tapi.....”
            “Stttt.” Dia menutup mulutku dengan jari telujuknya. “Gak usah ngomong lagi. Meski harus berkali-kali terluka, tapi yang penting itu demi kamu Kinaya. Yang terpenting bagiku, kamu gak kenapa-kenapa.” Senyumnya.
Perlahan-lahan dia pun mendekatkan wajahnya padaku. Semakin dekat hingga bibir kami bertemu, bibir yang sangat hangat melumat bibirku dengan lembut. Entah kenapa aku gak menolak ciuman itu. Namun tiba-tiba.... Brakkkk....pintu klinik terbuka dengan kasar.
            “Apa yang kamu lakukan?” seseorang datang dan membuka pintu klinik sekolah.
            “Mi...Michizuki.”
Aku pun langsung berdiri, namun Ryota masih tetap aja duduk tenang di kursinya. Michizuki pun mendekat ke Ryota, dia langsung menarik kerah baju Ryota.
            “Apa yang kamu lakukan pada Kinaya ku?” bentaknya. Aku berusaha melerai mereka, namun tak bisa.
            “Kinaya mu. Apa ada tertulis di wajahnya kalo dia itu milikmu.”
            “Kau ini, brengsek. Kau bener-bener pengen mati ya.” Michizuki pun tiba-tiba berubah jadi sosok vampire yang mengerikan, punya taring, kuku panjang, dan mata yang sangat menyala.
Kesekian kalinya aku melihat sosoknya yang sangat menakutkan itu. Aku semakin berusaha melerai mereka.
            “Michizuki. Sudah, hentikan! Hentikan!” bentakku. Namun mereka berdua sama sekali tidak bergerak sedikit pun, mereka saling beradu pandang. Dan anehnya lagi, Ryota bahkan gak takut melihat sosok menyeramkan didepannya itu.
            “Mati demi Kinaya, aku berani. Karena dari awal dia emang gak seharusnya jadi milikmu, tapi jadi milikku. Jadi lepaskan, Kinaya.”
Apa? Apa maksudnya itu? Apa maksud perkataan Ryota itu?
            “Brengsek, kau. Kau memang bener-bener bosan hidup ya. Gara-gara kamu, sekarang sikap Kinaya berubah. Dna gara-gara kamu juga perhatiannya sekarang berkurang padaku.”
            “Baguslah kalo seperti itu, itu berarti Kinaya bisa jadi milikku lagi.”
            “Gak akan pernah aku biarkan kamu memiliki Kinaya ku, karena dia milikku. Dan Cuma aku yang bisa memilikinya.”
            “Kamu Cuma seorang vampire penghisap darah yang suatu saat pasti akan menghisap darah manusia. Kamu itu sama aja kayak iblis berwajah manusia yang gak pantes buat cewek manusia sebaik Kinaya. Kamu pantesnya tuh pacaran ama sebangsamu juga, bangsa vampire.”
Mendengar kata-kata itu, terlihat wajah Michizuki semakin marah. Emosinya sudah hampir tak tertahankan lagi. Dia pun berusaha mencekik leher Ryota, namun Ryota berontak. Aku pun berusaha melepaskan cekikannya.
            “Lepaskan, Michizuki. Lepasin dia, lepasin!” tapi tetap saja da tak menghiraukan perkataanku. Karena rasa kesal, aku pun sontak menampar Michizuki. Dan akhirnya cekikan itu pun terlepas, Ryota terjatuh dan langsung batuk-batuk. Aku pun menghampirinya.
            “Ryota, kamu gak apa-apa?” tapi Ryota hanya batuk-batuk, dia seakan sulit untuk bernafas.
            “Michizuki, apa yang kamu lakukan tadi? Apa kamu mau membunuh Ryota? Apa kamu sekarang udah mau membunuh manusia, atau bahkan kamu akan membunuh dan menghisap darah manusia itu sampai habis.” Kesalku.
Aku pun langsung beranjak pergi dan berlari keluar sekolah, aku hendak pulang kerumah. Aku berlari sekencang-kencangnya menuju rumah. Sepanjang perjalanan aku hanya bisa menangis. Kenapa? Kenapa Michizuki bisa melakukan hal seperti itu? Kenapa didepanku dia berani mau membunuh Ryota? Aku gak nyangka dia bisa melakukan hal seperti itu. Aku bener-bener tak kuasa menahan tangis.