Sabtu, 10 November 2012

ASKEB POST SC


BAB I
TINJAUAN TEORI

1.1 KONSEP DASAR NIFAS
1.1.1 Definisi Nifas
a.       Masa nifas (puerperium) adalah masa pulih kembali, mulai dari persalinan selesai sampai alat-alat kandungan kembali seperti sebelum hamil.
(Rustam Mochtar, 1998. hal 115)
b.      Nifas atau puerperium adalah periode waktu atau masa dimana organ-organ reproduksi kembali keadaan tidak hamil.
(Helen Varney, 1999. hal 225)
c.       Puerperium merupakan waktu yang diperlukan untuk pulihnya alat kandungan pada keadaan yang normal, berlangsung selama 6 minggu atau 42 hari.
1.1.2 Fisiologi Nifas
a.       Involusi
Proses involusi uterus
Involusi
Tinggi fundus uteri
Berat uterus
Bayi lahir
Uri lahir
1 minggu
2 minggu
6 minggu
8 minggu
Setinggi pusat
2 jari bawah pusat
Pertengahan pusat simphysis
Tidak teraba diatas symphysis
Bertambah kecil
Sebesar normal
1000 gram
750 gram
500 gram
350 gram
50 gram 
30 gram

Proses involusi uteri pada batas implantasi plasenta
1)      Batas implantasi plasenta segera setelah lahir seluas 12x15 cm permukaan kasar, dimana pembuluh darah besar bermuara.
2)      Pada pembuluh darah terjadi pembentukan trombose, disamping pembuluh darah tertutup karena kontraksi otot rahim
3)      Bekas luka implantasi dengan cepat mengecil, pada minggu ke-2 sebesar 6 sampai 8 cm, dan akhir puerperium sebesar 2 cm.
4)      Lapisan endometrium dilepaskan dalam bentuk jaringan nekrosis bersama dengan lochea.
5)      Luka bekas implantasi plasenta akan sembuh karena pertumbuhan endometrium yang berasal dari tepi luka dan lapisan basalis endometrium.
6)      Kesembuhan sempurna pada saat akhir dari masa puerperium.
b.      Lochea
Pengeluaran lochea dapat dibagi berdasarkan jumlah dan warnanya sebagai berikut :
1)      Lochea rubra (kruenta)
Keluar pada hari ke-1 sampai ke-3, berwarna merah dan hitam yang terdiri dari sel desidua, verniks kaseosa, lanugo sisa darah.
2)      Lochea sanguinolenta
Keluar pada hari ke-3 sampai ke-7 yang berwarna merah kekuningan.
3)      Lochea serosa
Terjadi pada hari ke-7 sampai ke-14 yang berwarna kekuningan.
4)      Lochea alba
                     Terjadi setelah hari ke-14 yang berwarna putih.
c.       Serviks
Serviks mengalami involusi bersama-sama uterus, setelah persalinan ostium uteri eksternum dapat dimasuki oleh 2 hingga 3 jari tangan, setelah 6 minggu postnatal, serviks menutup.
d.      Vulva dan vagina
Vulva dan vagina mengalami penekanan serta peregangan yang sangat besar selama proses melahirkan bayi, dan dalam beberapa hari pertama sesudah proses tersebut, vulva dan vagina kembali ke keadaan tidak hamil dan rugae dalam vagina secara berangsur-angsur akan muncul kembali, sementara labia menjadi lebih menonjol.
e.       Perineum
Segera setelah melahirkan, perineum menjadi kendur karena sebelumnya teregang oleh tekanan kepala bayi yang bergerak maju, pada postnatal hari ke-5 perineum sudah mendapatkan kembali sebagian besar tonusnya sekalipun tetap kendur daripada keadaan sebelum melahirkan.
f.       Payudara
Berbeda dengan perubahan atrofik yang terjadi pada organ-organ pelviks. Payudara mencapai maturitas yang penuh selama masa nifas kembali jika laktasi disupresi payudara akan terjadi lebih besar, lebih kencang dan mula-mula lebih nyeri tekan sebagai reaksi terhadap perubahan status hormonal serta dimulai laktasi.

g.      Traktus urinarius
Buang air kecil sering sulit selama 24 jam pertama. Kemungkinan terdapat spasme sfingter dan oedem leher buli-buli sesudah bagian ini mengalami kompresi antara kepala janin dan tulang publis selama persalinan.
h.      Sistem gastrointestinal.
Kerap kali diperlukan waktu 3 sampai 4 hari sebelum faal usus kembali normal. Meskipun kadar progesteron menurun setelah melahirkan, namun asupan makanan juga mengalami penurunan selama 1 atau 2 hari. Gerak tubuh berkurang dan usus bagian bawah sering kosong jika sebelum melahirkan diberi enema. Rasa sakit di daerah perienum dapat menghalangi keinginan ke belakang.
i.        Sistem kardiovaskuler
Setelah terjadi diuerisis yang mencolok akibat penurunan kadar estrogen, volume darah kembali kepada ke keadaan tidak hamil, jumlah sel darah merah dan kadar hemoglobin kembali normal pada hari ke-6.
j.        Perubahan psikologis
1)      Fase taking in (ketergantungan)
Terjadi pada hari I sampai 2, biasanya perhatian ibu terutama terhadap kebutuhan dirinya sendiri, pasif dan tidak menginginkan kontak dengan bayinya tetapi bukan tidak memperhatikan.
2)      Fase taking hold
Terjadi pada hari ke 3 sampai 4 ibu biasanya mengatasi fungsi tubuh seperti BAK dan BAB, melakukan aktivitas duduk, jalan dan belajar tentang perawatan diri sendiri dan anaknya, sehingga timbul kurang percaya diri.
3)      Fase letting go
Berlangsung pada hari ke-5 sampai 6 terjadi peningkatan kemandirian dalam perawatan bayi dan dirinya.
1.1.3 Pengawasan Nifas
Puerperium dibagi menjadi 3 periode :
a. Puerperium dini
Yaitu keputihan dimana ibu telah diperbolehkan berdiri dan jalan-jalan.
b.Puerperium intermedial
Yaitu kepulihan menyeluruh alat-alat genetalia yang lamanya 6-8 minggu.

c. Remote puerperium
Yaitu waktu yang diperlukan untuk pulih dan sehat sempurna terutama bila selama hamil atau waktu persalinan mempunyai komplikasi.
Kunjungan yang dilakukan selama nifas
1)      Kunjungan I
Waktunya 6 sampai 8 jam setelah persalinan, tujuannya :
a)      Mencegah perdarahan masa nifas karena atonia uteri
b)      Mendeteksi dan merawat penyebab lain perdarahan rujuk jika perdarahan berlanjut
c)      Memberikan konseling pada ibu bagaimana mencegah perdarahan masa nifas karena atonia uteri.
d)     Pemberian ASI awal
e)      Melakukan hubungan antara ibu dan bayi baru lahir
f)       Menjaga bayi tetap sehat dengan cara mencegah hipotermia
g)      Jika petugas kesehatan menolong persalinan ia harus tinggal dengan ibu dan bayi baru lahir untuk 2 jam pertama setelah kelainan atau sampai ibu dan bayi dalam keadaan stabil.
2)      Kunjungan ke II
Waktunya 6 hari setelah persalinan, tujuannya :
a)      Memastikan involusi uterus berjalan normal : uterus berkontraksi, fundus dibawah umbilikus. Tidak ada perdarahan abnormal, dan tidak ada bau
b)      Memastikan ibu mendapatkan cukup makanan, cairan dan istirahat
c)      Memastikan ibu menyusui dengan baik dan tidak memperhatikan tanda-tanda penyulit.
d)     Memberikan konseling pada ibu mengenai asuhan pada bayi, tali pusat menjaga bayi tetap hangat dan merawat bayi sehari-hari.
3)      Kunjungan ke III
Waktunya 2 minggu setelah persalinan, tujuannya sama seperti 6 hari setelah persalinan.
4)      Kunjungan ke IV
Waktunya 6 minggu setelah persalinan, tujuannya :
                                          a)      Menanyakan pada ibu tentang penyulit-penyulit yang ia atau bayi alami.
                                          b)      Memberikan konseling untuk KB secara dini.
1.1.4 KIE
a.       Mobilisasi
Ibu harus istirahat, sering tidur miring ke kiri dan ke kanan, kemudian mulai berjalan-jalan.
b.      Diet
Ibu harus makan-makanan yang bergizi dan cukup kalori yang mengandung protein, banyak cairan, sayur-sayuran dan buah-buahan.
c.       Miksi
Jangan ditahan, segera dilakukan sendiri secepatnya kadang wanita mengalami sulit kencing karena oedema selama persalinan atau sfingter uretra ditekan oleh kepala janin.
d.      Defekasi
BAB harus dilakukan 3 sampai 4 hari pasca persalinan. Bila sulit BAB dapat diberi obat laksan per oral atau per rektal.
e.       Perawatan payudara
Hendaknya melakukan perawatan payudara secara rutin 2 kali sehari sebelum mandi untuk memperlancar produksi ASI.
f.       Menyusui
Hendaknya memberikan ASI saja sampai bayi berusia 6 bulan. Menyusui bayinya secara teratur setiap 2 jam, dengan bergantian antara payudara yang kanan dan kiri.
g.      Senggama
Secara fisik melakukan hubungan suami istri bila darah sudah merah, sudah berhenti dan ibu dapat memasukkan 1 atau 2 jari ke dalam vagina tanpa rasa sakit.
h.      KB
Menganjurkan pada ibu untuk segera ikut KB jika sudah mendapatkan menstruasi, dan menganjurkan ibu untuk menggunakan jenis KB yang tidak mengganggu proses laktasi seperti jenis KB non homonal (IUD, kalender) atau juga suntik KB 3 bulan.

1.2 KONSEP DASAR SEKSIO CAESAREA
1.2.1 Pengertian
a.       Suatu Persalinan Buatan,Dimana Janin Dilahirkan Melalui Suatu Insisi Pada   Perut Dan Dinding Rahim Dengan Syarat Rahim Dalam Keadaan Utuh Serta Berat Janin Diatas 500 Gram
(Prawirohardjo,Sarwono,1998,133)

b.          Suatu tindakan untuk melahirkan bayi dengan berat diatas 500 gram melalui sayatan dinding uterus yang masih utuh
(Prawirohardjo,Sarwono,1998,134)
c.       Persalinan melalui sayatan pada dinding abdomen dan uterus yang masih utuh dengan berat janin > 1000 gram atau umur kehamilan > 28 minggu
                        (Manuabua :1999,257 )
1.2.2     Istilah SC
a.       Seksio caesarea secara primer (efektif)
Dari semula telah direncanakan bahwa janin akan dilahirkan secara seksio caesarea tidak diharapakan lagi kelahiran pervaginam,misalnya pada panggul sempit
b.      Seksio caesarea sekunder
Kita bersikap mencoba menunggu kelahiran biasa bila tidak ada kemajuan persalinan atau partus percobaan,baru dilakukan SC
c.       Seksio caesarea berulang
Ibu pada kehamilan yang lalu mengalami seksio caesarea dan pada kehamilan selanjutnya dilakukan seksio caesarea ulang
d.      Seksio caesarea histerektomi
Suatu operasi dimana setelha janin keluar dari kavum uteri dan langsung dialkukan histerektomi,oleh karena sutu indikasi
e.       Seksio caesarea porro
Suatu operasi tanpa mengeluarkan janin dari kavum uteri dan langsung dilakukan histerektomu,misalnya pada keadaan infeksi rahim yang berat

1.2.3  Indikasi SC
a.       Plasenta previa
b.       Panggul sempit
c.        Dispropporsi cephalopelvik
d.       Ruptur uteri mengancam
e.        Partus lama
f.        Distosia servik
g.        Preeklamsi dan hipertensi
h.       Kelainan letak (sungsang,lintang)
                                                      (Hanifa,2000)

1.2.4  Jenis-jenis operasi seksio caesarea
  1. seksio caesarea Klasik atau korporal dengan insisi memanjang pada korpus uteri
  2. seksio caesarea Ismika atau profumda dengan insisi pada segmen bawah rahim
  3. seksio caesarea Ekstra peritonealis,yaitu membuka peritoneum parteralis dengan demikian tidak membuka kavum abdominalis
Menurut arah sayatan pada rahim, dapat dilakukan sbb:
1)      Sayatan memanjang (longitidinal) memulai kronimg
2)      Sayatan tranversal (melintang)
3)      Sayatan huruf T (T-insicion)
(Manuaba,1999)
1.2.5 Komplikasi
a.   Infeksi puerpuralis (nifas)
1)  Ringan dengan kenaikan suhu tubuh beberapa hari saja
2) Sedang dengan peningkatan lebih tinggi disertai dehidrasi dan perut sedikit kembung
3) Berat dengan peritolisis sepsis dan, hal ini sering disertai post partum terlambat dimana sebelumnya terjadi infeksi intra partial karena ketuban yang telah pecah terlalu lama, penanggulangan adalah dengan pemberian cairan elektrolit dan antibiotika yang adekuat dan tepat
b.   Perdarahan disebabkan karena:
1)      Banyaknya pembuluh darah yang terputus dan terbuka
2)      Atonia uteri
3)      Perdarahan plasenta yang berat
c.  Lluka,kandung kemih, emboli paru
d.  Kemungkinan rupture spontan pada kehamilan mendatang
(Hanifa,2000)
1.2.6 Perawatan Setelah Operasi
Observasi  komplikasi meliputi:
a.       Kesadaran penderita
b.      Pengukuran dan memerikasi TTV
Pengukuran :
F Tekana darah,suhu,nadi,pernafasam
F Keseinbangan cairan meliputi produksi urine,dengan perhitungan
o   Produksi urine             : 500-600 cc
o   Penguapan badan        : 900-1000 cc
F Penberian cairan pengganti sekitar 2000-2500 cc dengan perhitungan 20 tetes/menit (1 cc/menit)
F Infus setelah operasi
c.       Pemeriksaan
F Paru
o   Kebersihan jalan nafas
o   Ronkhi basal untuk mengetahui adanyan oedema paru
F Bising usus menandakan berfungsinya usus (dengan adanya flatus)
F Perdarahan lokal pada luka operasi
F Kontraksi rahim yang menutupi pembuluh darah
F Perdarahan pervaginam adalah : evaluasi pengeluaran lochea, adanya atonia uteri yang meningkatkan perdarahan berkepanjangan
Profilaksis antibiotika
Pertimbangan pemberian antibiotika yaitu profilaksis, bersifat terapi karena sudah terjadi infeksi,berpedoman pada hasil tes sensitifitas,kualitas antibiotik yang akan diberikan
Mobilisasi penderita
 a. mobilisasi fisik
·         setelah sadar pasien boleh miring
·         berikutnya duduk,bahkan jalan dengan infus
·         infus dan kateter dibuka pada hari kedua ketiga
 b. mobilisasi usus
setelah hari pertama dan keadaan pasien baik, penderita boleh minum.diikuti makan bubur saring dan pada hari kedua ketiga makan bubur,hari kempat kelima nasi biasa dan boleh pulang
(Manuaba,1999)



1.2.6Nasehat bagi ibu yang telah dilakukam Sc
1.   Sedapat-dapatnyan jangan hamil dulu selama 2 tahun setelah SC
2.  Kehamilan dan persalinan berikutnya harus diawasi dan berlangsung di RS yang lebih lengkap,untuk mengetahui apakah pada persalinan berikutnya dilaksanakan SC lagi atau tergantung dari indikasi dilakukan SC sebelumnya
(Sastra winata,sulaiman,1996)




























BAB II
TINJAUAN KASUS
I.       PENGKAJIAN DATA
Tanggal     : 24 Januari 2012
Tempat      : RSIA Ben Mari
Jam            : 16.00 WIB
Oleh          : Rizky Dewi Anggraeniy A.

A.    DATA SUBJEKTIF
Nama Ibu              : Ny ”E”                                  Nama Suami    : Tn ”S”
Umur                     : 20 tahun                                Umur               : 28 tahun
Agama                   : Islam                                                 Agama             : Islam
Pendidikan            : SMA                                                 Pendidikan      : SMP
Pekerjaan               : IRT                                        Pekerjaan         : Swasta
Alamat                  : Kebon Agung RT 07 RW 01
                        Ibu mengatakan telah melahirkan anak pertamanya SC pada tanggal 22 Januari 2012 jam 22.35 WIB dengan BB 2500 gram dan PB 48 cm. Ibu mengeluh nyeri luka bekas operasi.

B.     DATA OBJEKTIF
Pemeriksaan Umum
K/U : baik
TD : 110/80 mmHg, N : 80x/menit, RR : 22x/menit, S : 367oC
UC : baik

Pemeriksaan Fisik
Muka kemerahan, tidak oedema
Konjungtiva merah muda, sclera putih
Putting susu menonjol, terdapat hiperpigmentasi, terdapat hipervaskularisasi
Abdomen terdapat luka bekas SC tertutup hypavick, tidak ada tanda-tanda infeksi
Genetalia terdapat pengeluaran darah (lochea rubra), terpasang kateter, tidak oedema
Ekstremitas atas dan bawah tidak oedema, terpasang infus pada tangan kiri RL 20 tpm


Data Bayi
Bayi lahir SC tanggal 22 Januari 2012 jam 22.35 WIB BB 2500 gram PB 48 cm AS 8-9, jenis kelamin perempuan, Anus (+), cacat (-), ketuban jernih

C.    ASSASEMENT
P1001 Ab000 dengan post SC hari ke-2

D.    PENATALAKSANAAN
1.      Menginformasikan hasil pemeriksaan, ibu memahami
2.      Melakukan perawatan luka post operasi, mengganti kasa dan hypavick
3.      Melakukan observasi TFU, UC, lochea, urine, hasil terlampir
4.      Menganjurkan ibu untuk menjaga personal hygiene dan tetap menyusui bayinya meski pun jarang, ibu memahami dan melaksanakannya
5.      Memberikan KIE kepada ibu, ibu memahami
6.      Memberikan terapi, hasil terlampir



















BAB III
PEMBAHASAN

Kala nifas (puerperium) adalah waktu yang digunakan untuk pulihnya alat kandungan dalam keadaan normal yang berlangsung selama 6 minggu atau 42 hari. (Manuaba, 1998). Sectio secarea merupakan suatu cara melahirkan janin melalui insisi pada dinding abdomen (laparotomi) dan dinding uterus (histerotomi)  (Williams, 2004). Cara ini merupakan jalan alternatif jika persalinan normal kan membahayakan bagi ibu dan janin.
Setelah melaksanakan asuhan kebidanan pada Ny “E” P1001 Ab000 post SC hari ke-2, penanganannya Yang diberikan tidak jauh berbeda  antara teori dengan kenyataan yang ada di lapangan.
Fokus utama Asuhan pada pasien post SC adalah perawatam luka operasi  agar selalu dalam keadaan kering untuk mencegah terjadinya infeksi,akan tetapi tidak dapat dikesampingkan pemenuhan nutrisi observasi TTV,TFU,perdarahan,Locheo,UC harus dilakukan setiap hari karena hal itu untuk mendeteksi adanya komplikasi pada ibu nifas. Dalam memberikan asuhan kebidanan tidak ada kesenjangan antara teori dan kenyataan yang ada di lapangan.

















BAB IV
PENUTUP

A.    KESIMPULAN
Masa nifas merupakan masa untuk ibu memulihkan kesehatan seluruh organ-organ dalam tubuhnya terutama organ kandungannya. Untuk dapat pulih secara sempurna ibu harus mendapatkan asuhan kebidanan yang optimal dari petugas kesehatan.
Dalam melakukan asuhan kebidanan pada ibu nifas sebaiknya sesuai dengan standar operasional prosedur yang telah ditetapkan. Pengkajian data yang tepat dari pasien akan menentukan tindakan-tindakan dalam asuhan kebidanan.Sehingga jika tindakan telah sesuai dengan keadaan dan kebutuhan ibu , maka ibu dapat pulih secara sempurna.
Asuhan kebidanan ibu nifas khususnya pada post operasi SC adalah asuhan yang diberikan pada ibu, yang meliputi TTV sebagai parameter adanya infeksi, perawatan luka post operasi dengan teknik aseptik.Asuhan pada ibu nifas ini juga menganjurkan ibu untuk mobilisasi dini dan cara merawat bayi, sehingga dalam hal tersebut dapat terlihat dengan nyata bahwa asuhan pada ibu nifas post operasi SC ini akan menambah pengetahuan dan ketrampilan.
Setelah di lakukan asuhan kebidanan pada Ny “E” P1001Ab000 2 Hari Post SCdengan indikasi gemelli di dapatkan hasil masih dalam batas normal.
        
B.     SARAN
Agar mutu pelayanan kebidanan meningkat, penulis mempunyai beberapa saran yaitu :
Bagi Rumah Sakit :
1.   Ruangan ibu dan bayi di usahakan berdekatan agar sewaktu-waktu ibu dapat menyusui bayinya
Bagi Mahasiswa :
1.      Sebagai mahasiswa, hendaknya lebih banyak belajar lagi tentang teknik mendapatkan data untuk memperoleh diagnosa dan masalah yang lebih akurat dan tepat.
Bagi Ibu nifas :
1.      Untuk Ibu post operasi SC diharapkan dapat melaksanakan anjuran dan informasi  yang telah diterima serta mau melaksanakan perawatan di rumah.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar